RPP IPA TERPADU (bebasis tema)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan              : SMP

Mata Pelajaran                    : IPA

Kelas/Semester                   : VIII/1

Alokasi Waktu                    : 4×40 jam pelajaran

STANDAR KOMPETENSI

  1. Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia.
  2. Menjelaskan konsep partikel materi.
  3. Memahami peran usaha, gaya dan energi dalam kehidupan sehari-hari.

KOMPETENSI DASAR

1.5     Mendeskripsikan sistem pernapasan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan.

3.3    Membandingkan molekul unsur dan molekul senyawa.

5.5     Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair dan gas, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

INDIKATOR

Pertemuan pertam:

  1. Menjelaskan pengertian bernapas.
  2. Menjelaskan proses pernapasan pada manusia.
  3. Menganalisis konsep tekanan yang terjadi di paru-paru (ekspirasi dan inspirasi) pada proses pernapasan.

Pertemuan kedua:

  1. Menjelaskan pengertian molekul unsure dan molekul senyawa.
  2. Menyebutkan molekul senyawa dan molekul unsur yang terbentuk pada proses pernapasan.
  3. Membuktikan zat hasil pernafasan.

TUJUAN

Pertemuan pertama:

  1. Melalui kegiatan demonstrasi, siswa dapat menganalisis konsep tekanan yang terjadi di paru-paru (ekspirasi dan inspirasi) pada proses pernapasan.
  2. Melalui kegiatan diskusi kelompok, siswa dapat mengetahui pengertian dan proses bernapas pada manusia.

Pertemuan kedua :

  1. Melalui kegiatan praktikum, siswa dapat menyebutkan molekul senyawa dan molekul unsur yang terbentuk pada proses pernapasan.
  2. Materi Pembelajaran
  3. Proses pernapasan
  4. Konsep tekanan udara
  5. Molekul unsur dan molekul senyawa

(peta konsep terlampir)

  1. Metode Pembelajaran
  • Ceramah
  • Demonstrasi
  • Diskusi kelompok
  • Praktikum

       Model Pembelajaran

       Cooperative learning

Pendekatan

       Inkuiri

  1. Sumber Belajar

Buku

Siswa:

Wariyono, Sukis. 2008. Mari Belajar Ilmu Alam Sekitar Panduan Belajar IPA Terpadu. Jakarta : DEPDIKNAS

Guru:

Wasis. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam SMP dan MTs kelas VIII. Jakarta: DEPDIKNAS

Pratiwi, Rinie. Dkk. 2008. Contextual Teaching Learning Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: DEPDIKNAS.

Internet

 

  1. Kegiatan Belajar Mengajar

       Pertemuan Pertama

Kegiatan Penilaian oleh Pengamat
1 2 3 4
Pendahuluan ( + 10 menit)
  1. Memberikan motivasi dengan meminta siswa untuk menarik nafas dalam – dalam dan menahanya sejenak kemudian menghembuskannya kembali.

Guru membimbing siswa untuk menyumbang ide berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan:

  • Apa yang dirasakan saat kita menarik nafas? Apa rongga dada kalian mengembang?
  • Saat kita mengembuskan nafas, bagaimana keadaan rongga dada kalian?
  1. Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran (produk, proses, keterampilan sosial dan karakter).
Kegiatan inti ( + 60 menit)
  1. Guru memberikan informasi tentang alat peraga yang diibaratkan seperi paru-paru manusia.
  2. Mengorganisasikan siswa dalam kelompok kooperatif dengan tipe STAD (3-4 siswa) setiap kelompok.
  3. Kemudian membagi LKS-1 dan alat peraga: cara kerja paru-paru.
  4. Dipandu LKS 1, guru membimbing siswa,dalam berdiskusi, berkomunikasi dan menarik kesimpulan secara jujur, dan saling bekerjasama dengan anggota kelompok.
  5. Melakukan evaluasi formatif dengan meminta beberapa kelompok mempresentasikan hasil kinerjanya dan ditanggapi kelompok lain dengan rasa tanggungjawab. Pada saat presentasi, kelompok lain diharapkan mendengarkan dengan sebaik-baiknya, dan bertanya apabila kurang jelas.
Penutup ( + 10 menit)
  1. Membimbing siswa menyumbangkan ide untuk membuat rangkuman pelajaran dan mencatat hasil rangkuman secara individu untuk melatihkan kejujuran dan tanggung jawab.
  2. Memberikan penghargaan kepada individu dan kelompok yang kinerjanya baik dengan bentuk “aplause” kepada kelompok yang terbaik.
  3. Memberikan kuis kepada siswa dalam bentuk post test untuk mengetahui pemahamam siswa mengenai meteri yang telah di belajarkan.
  4. Mengingatkan siswa mengenai materi dipertemuan selanjutnya yaitu mengenai hasil dari proses respirasi.

Pertemuan Dua

Kegiatan Penilaian oleh Pengamat
1 2 3 4
Pendahuluan ( + 10 menit)
  1. Memotivasi siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa terkait fakta yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat kalian pulang sekolah dan menaiki bus yang penuh sesak, apakah yang kalian rasakan? Mengapa hal itu bisa terjadi?.
  2. Kemudian setelah turun dari bus, apa yang kalian rasakan?.

Selanjutnya guru mengorientasikan kepada masalah yang akan ditarik pemecahannya oleh siswa secara berkelompok. Masalah tersebut adalah “Zat apakah yang kita hembuskan ketika bernafas?”.

 

  1. Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran produk, proses, psikomotor, perilaku berkarakter dan keterampilan sosial.
Kegiatan inti ( + 60 menit)
  1. Guru memberikan informasi mengenai zat yang dihasilkan pada saat bernafas.
  2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar dengan cara membagi siswa dalam kelompok belajar (3-4) siswa setiap kelompok, kemudian memberikan LKS-02: Zat apakah yang kita hembuskan ketika bernafas? untuk berlatih merancang dan melakukan penyelidikan.

Sebagai panduan dalam memecahkan masalah yang telah ditentukan. Guru meminta siswa untuk jujur (berani mengungkapkan hal-hal yang belum dimengerti) dalam LKS-02 itu dan memberi kesempatan kepada siswa lain untuk membantu temannya (memberi penjelasan sesuai yang diperlukan) yang kesulitan itu.

  1. Guru meminta siswa untuk mengambil alat dan bahan yang digunakan untuk membuat desain percobaan dan melakukan percobaan.
  2. Membimbing siswa dalam berdiskusi, berkomunikasi secara jujur dan saling bekerjasama dengan anggota kelompok untuk membuat desain percobaan sesuai dengan alat-alat yang telah disediakan untuk membuktikan zat hasil pernapasan pada manusia.
  3. Melakukan evaluasi formatif dengan meminta beberapa kelompok mempresentasikan desain alat yang telah dibuat dan ditanggapi kelompok lain dengan rasa tanggungjawab. Pada saat presentasi, kelompok lain diharapkan mendengarkan dengan sebaik-baiknya, dan bertanya apabila kurang jelas.
  4. Guru meminta siswa untuk melakukan percobaan sesuai dengan desain yang telah dibuat, dengan penuh tanggung jawab dan saling bekerja sama.
  5. Guru membimbing siswa dalam melakukan percobaan, dan meminta siswa untuk membuat kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan.
  6. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil percobaan mereka untuk membuktikan zat hasil pernapasan. Guru memberikan konfirmasi.
Penutup ( + 10 menit)
  1. Membimbing siswa menyumbangkan ide untuk membuat rangkuman pelajaran dan mencatat hasil rangkuman secara individu untuk melatihkan kejujuran dan tanggung jawab.
  2. Memberikan penghargaan kepada individu dan kelompok yang kinerjanya baik dengan bentuk “aplause” kepada kelompok yang terbaik.
  3. Memberikan kuis kepada siswa dalam bentuk post test untuk mengetahui pemahamam siswa mengenai meteri yang telah di belajarkan.
  4. Mengingatkan siswa mengenai materi dipertemuan selanjutnya yaitu mengenai hasil dari proses respirasi.
  1. Penilaian Hasil Belajar

-          Tes tertulis

-          Tes Unjuk kerja

Indikator Penilaian
Teknik Bentuk Instrument Instrument
Menjelaskan pengertian bernapas.  Tes tertulis Uraian Jelaskan pengertian bernapas!
Menjelaskan proses pernapasan pada manusia. Tes tertulis 

 

Uraian  Bagaimanakah proses bernapas pada manusia?
Menganalisis konsep tekanan yang terjadi di paru-paru (ekspirasi dan inspirasi) pada proses pernapasan. Tes tertulis Uraian Bagaimana tekanan yang terjadi pada paru-paru saat proses bernapas?
Menyebutkan molekul senyawa dan molekul unsur yang terbentuk pada proses pernapasan. Tes unjuk kerja 

 

LKS  Lampiran

 

 

 

Mengetahui,                                                    Yogyakarta, …. April 2013

Kepala SMP                                                                   Guru IPA

 

 

 

______________________                               _____________________

  1.    NIP.

 

 

Penyakit dan kelanan pada urinaria

GLOMERULONEFRITIS AKUT

Glomerulonefritis akut juga disebut dengan glomerulonefritis akut post sterptokokus  (GNAPS) adalah suatu proses radang non-supuratif yang mengenai glomeruli, sebagai akibat infeksi kuman streptokokus beta hemolitikus grup A, tipe nefritogenik di tempat lain. Penyakit ini sering mengenai anak-anak. GNAPS dapat terjadi pada semua kelompok umur, namun tersering pada golongan umur 5-15 tahun, dan jarang terjadi pada bayi. Referensi lain menyebutkan paling sering ditemukan pada anak usia 6-10 tahun.

Penyakit ini dapat terjadi pada laki laki dan perempuan, namun laki laki dua kali lebih sering dari pada perempuan. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1.

Gambar1. Bakteri streptokokus

Diduga ada faktor resiko yang berhubungan dengan umur dan jenis kelamin. Suku atau ras tidak berhubungan dengan prevelansi penyakit ini, tapi kemungkinan prevalensi meningkat pada orang yang sosial ekonominya rendah, sehingga lingkungan tempat tinggalnya tidak sehat. Sebagian besar (75%) glomerulonefritis akut paska streptokokus timbul setelah infeksi saluran pernapasan bagian atas, yang disebabkan oleh kuman Streptokokus beta hemolitikus grup A tipe 1, 3, 4, 12, 18, 25, 49. Sedang tipe 2, 49, 55, 56, 57 dan 60 menyebabkan infeksi kulit 8-14 hari setelah infeksi streptokokus, timbul gejala-gejala klinis. Infeksi kuman streptokokus beta hemolitikus ini mempunyai resiko terjadinya glomerulonefritis akut paska streptokokus berkisar 10-15%.

Ada beberapa penyebab glomerulonefritis akut, tetapi yang paling sering ditemukan disebabkan karena infeksi dari streptokokus, penyebab lain diantaranya:

  1. Bakteri  :streptokokus grup C, meningococcocus, Sterptoccocus Viridans, Gonococcus, Leptospira, Mycoplasma Pneumoniae, Staphylococcus albus, Salmonella typhi dll
  2. Virus    :hepatitis B, varicella, vaccinia, echovirus, parvovirus, influenza, parotitis epidemika dl
  3. Parasit      :malaria dan toksoplasma

Gambaran klinis dapat bermacam-macam. Kadang-kadang gejala ringan tetapi tidak jarang anak datang dengan gejala berat.. Kerusakan pada rumbai kapiler gromelurus mengakibatkan hematuria/kencing berwarna merah daging dan albuminuria, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Urine mungkin tampak kemerah-merahan atau seperti kopi Kadang-kadang disertai edema ringan yang terbatas di sekitar mata atau di seluruh tubuh. Umumnya edema berat terdapat pada oliguria dan bila ada gagal jantung. Edema yang terjadi berhubungan dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG/GFR) yang mengakibatkan ekskresi air, natrium, zat-zat nitrogen mungkin berkurang, sehingga terjadi edema dan azotemia. Peningkatan aldosteron dapat juga berperan pada retensi air dan natrium. Dipagi hari sering terjadi edema pada wajah terutama edem periorbita, meskipun edema paling nyata dibagian anggota GFR biasanya menurun (meskipun aliran plasma ginja biasanya normal) akibatnya, ekskresi air, natrium, zat-zat nitrogen mungkin berkurang, sehingga terjadi edema dan azotemia. Peningkatan aldosteron dapat juga berperan pada retensi air dan natrium. Dipagi hari sering terjadi edema pada wajah terutama edem periorbita, meskipun edema paling nyata dibagian anggota bawah tubuh ketika menjelang siang. Derajat edema biasanya tergantung pada berat peradangan gelmurulus, apakah disertai dnegan payah jantung kongestif, dan seberapa cepat dilakukan pembatasan garam.

Gambar 2.proses terjadinya proteinuria dan hematuria

Hipertensi terdapat pada 60-70% anak dengan GNA pada hari pertama, kemudian pada akhir minggu pertama menjadi normal kembali. Bila terdapat kerusakan jaringan ginjal, maka tekanan darah akan tetap tinggi selama beberapa minggu dan menjadi permanen bila keadaan penyakitnya menjadi kronis. Suhu badan tidak beberapa tinggi, tetapi dapat tinggi sekali pada hari pertama. Kadang-kadang gejala panas tetap ada, walaupun tidak ada gejala infeksi lain yang mendahuluinya. Gejala gastrointestinal seperti muntah, tidak nafsu makan, konstipasi dan diare tidak jarang menyertai penderita GNA.

Hipertensi selalu terjadi meskipun peningkatan tekanan darah mungkin hanya sedang. Hipertensi terjadi akibat ekspansi volume cairan ekstrasel (ECF) atau akibat vasospasme masih belum diketahui dengan jelas.

Penyakit Ginjal Berupa Kelainan kongenitial atau bawaan ginjal

Kelainan kongenitial ginjal (kelainan bawaan sejak lahir) yang pada akhirnya sering menimbulkan gagal ginjal adalah penyakit ginjal polikistik. Penyakit ginjal ini seringkali tidak menimbulkan gejala awal. Setelah penderita meningkat dewasa baru timbul gejala seperti adanya darah dalam air seni (hematuri) atau nyeri pada daerah ginjal. Biasanya penyakit ini juga diidap oleh anggota keluarga lainnya. Kelainan kongenital itu dapat menimbulkan gagal ginjal, misalnya ureter rangkap, horse shoe kidney, syndrome van alport, simdroma van fabry, dan lain-lain.

Beberapa penyakit ginjal berasal dari faktor bawaan, Contohnya, penyakit ginjal polikistis (polycystic kidney disease/PKD) adalah kelainan genetis dengan banyak kista tumbuh di ginjal. Kista PKD secara bertahap dapat mengganti banyak massa ginjal, mengurangi fungsi ginjal dan mengakibatkan kegagalan ginjal.

Beberapa masalah ginjal dapat tampak saat bayi masih berkembang dalam kandungan. Contoh termasuk PKD autosomal recessive, bentuk PKD yang jarang, dan masalah perkembangan lain yang mengganggu pembentukan nefron secara normal. Tanda penyakit ginjal pada anak beragam. Seorang anak mungkin bertumbuh sangat pelan, dapat sering muntah, atau mungkin mengalami nyeri pada punggung atau pinggang. Beberapa penyakit ginjal dapat “diam” selama beberapa bulan atau bahkan tahun.

Beberapa penyakit ginjal bawaan mungkin baru terdeteksi setelah dewasa. Jenis PKD yang paling umum dulu disebut sebagai “PKD dewasa” karena gejala tekanan darah yang tinggi dan kegagalan ginjal baru muncul setelah pasien berusia 20-an atau 30-an tahun. Tetapi dengan perkembangan dengan teknologi diagnosis, sekarang dokter dapat menemukan kista pada anak dan remaja sebelum muncul gejala.

Sindroma Nefrotik

Sindroma Nefrotik ada yang primer dan ada yang sekunder. Sindroma Nefrotik primer penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) dan ini adalah yang terbanyak pada anak bahkan bisa dialami oleh bayi di bawah 1 tahun. Sedangkan Sindroma Nefrotik sekunder terjadi karena adanya penyakit sistemik lain misalnya karena hepatitis B, tumor paru, tumor usus, keracunan logam berat, lupus, kencing manis, malaria, syphilis dan oleh penyakit lainnya. Gejala awal Sindrom Nefrotik yang sering terjadi adalah saat anak bangun pagi, 95% mengalami sembab, terutama di daerah mata (periorbita), bisa juga di kantong zakar, dan sembabnya berangsur hilang ketika hari mulai siang. Kemudian jika diperhatikan sembabnya akan ada di bagian tungkai, makin lama makin bertambah dan kemudian menyeluruh, dengan berjalannya waktu.

Jika bagian tubuh yang sembab ini ditekan maka akan meninggalkan bekas (pitting oedem). Perutnya makin lama makin besar karena adanya cairan di rongga perut (acites), anak mengalami sulit makan, terkadang bisa diare, buang air kecil sedikit dan agak kemerahan, kulitnya menjadi pucat, semakin berat lagi anak kemudian bisa mengalami kesulitan bernapas.

Dan pada pemeriksaan akan dijumpai pembesaran organ hati, ada protein yang lolos dalam air seni, ada darah di air seni terlihat secara mikroskopis, kadar kolesterol jahat dalam darah meningkat, protein albumin dalam tubuh menurun dan anak bisa mengalami hipertensi (darah tinggi). Anak dengan sindroma nefrotik akan mudah dihinggapi keracunan darah akibat infeksi (shock sepsis), pembekuan darah dan kekentalan darah yang meningkat, infeksi, hambatan pertumbuhan, dan gagal ginjal akut ataupun kronik. Dan jika itu terjadi maka tak jarang akan berakhir dengan kematian. Namun jika belum timbul penyulit seperti keadaan ini, maka kemungkinan untuk sembuh cukup besar, untuk itu maka begitu timbul gejala seperti sembab segeralah periksakan ke dokter.

Kanker ginjal

Kanker ginjal merupakan tumor ganas yang berasal dari urinary tubular epithelium, secara umum pertumbuhannya agak lambat, akan tetapi terkadang juga bisa sangat cepat, dapat tumbuh pada setiap bagian dari renal parenchyma. Kanker ginjal dapat invasi bertahap ke jaringan dan organ terdekat melalui tumor primer, juga dapat metastase keluar melalui limfatik atau pembuluh darah vena.

Kanker ginjal merupakan salah satu tumor ganas yang sering dijumpai pada sistem urinary, dengan tingkat insiden mencapai 3%~6% dari semua tumor ganas. Setiap tahunnya tingkat insiden kanker ginjal di seluruh dunia bertambah 2%, pasien kanker ginjal yang meninggal setiap tahun mendekati 100000 kasus. Kanker ginjal menduduki tingkatan 80%~90% dari tumor ganas orang dewasa. Merupakan tumor ginjal yang paling sering dijumpai pada orang dewasa. Perbandingan antara pasien kanker ginjal pria dan wanita adalah 2:1, dapat terjadi pada berbagai usia, tingkat insiden usia tertinggi 50-70 tahun.

Banyak faktor berpengaruh terhadap tingkat pertahanan hidup kanker ginjal, umumnya pasien kanker ginjal setelah operasi nephrectomy tingkat pertahanan hidup 5 tahun sekitar 35%~40%, tingkat pertahanan hidup 10 tahun sekitar 17%~30%. Prognosis kanker ginjal terkadang sulit diestimasi, dalam jangka waktu 20 – 30 tahun bahkan lebih lama lagi setelah operasi nephrectomy, muncul lesi metastase. Tingkat insiden kanker ginjal sangat tinggi, akan tetapi manusia masih belum mengerti jelas penyebab sebenarnya kanker ginjal. Terjadinya kanker ginjal merupakan akibat efek bersama dari berbagai faktor.

  1. Merokok : Bahaya mengidap kanker ginjal bagi orang yang merokok di atas 30 tahun dan menghisap rokok tanpa filter sangat tinggi.
  2. Kegemukan dan tekanan darah tinggi : Kegemukan dan tekanan darah tinggi merupakan dua faktor berbahaya yang dapat memicu kanker ginjal pada kaum pria.
  3. Pekerjaan : Pekerja bidang logam, pekerja percetakan surat kabar, pekerja arang batubara, industri dry cleaning dan pekerja produk petrokimia, semuanya bisa meningkatkan tingkat insiden kanker ginjal dan resiko kematian.
  4. Sinar radiasi : Dalam jangka waktu lama terpapar di bawah sumber radioaktif lemah dapat meningkatkan resiko mengidap kanker ginjal.
  5. Gentetik: Populasi orang yang anggota kelurganya kena kanker, tingkat insidennya lebih tinggi dari orang biasa.
  6. Makanan dan obat : Menurut survey, mengkonsumsi produk susu, protein hewani dan lemak dalam jumlah tinggi, kurang mengkonsumsi buah dan sayuran merupakan faktor bahaya yang dapat menyebabkan terjadinya kanker ginjal.

Gejala kanker ginjal

  1. 1.      Tidak ada gejala yang jelas : Sampai saat ini, dalam klinis lebih dari 40% kanker ginjal ditemukan pada saat pemeriksaan kesehatan atau pemeriksaan karena alasan lain secara kebetulan, tidak ada gejala atau tanda yang jelas. Dalam proses pemeriksaan, tingkat insiden semakin meningkat tiap tahun, kebanyakan merupakan lesi awal, prognosisnya bagus. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala sangat penting.
  2. 2.      Gejala lokal yang khas : Kencing darah, sakit pinggang, benjolan dalam perut dikenal sebagai tiga gejala kanker ginjal yang utama. Pada saat ketiga gejala ini semuanya muncul pada tubuh pasien, kebanyakan mengartikan kondisi penyakit telah berkembang sampai pada stadium lanjut, harapan untuk berobat kecil sekali, akan tetapi keadaan seperti ini sangat sedikit. Kebanyakan pasien hanya muncul satu atau dua gejala dari tiga gejala di atas.

a)      Kencing darah : Sekitar 40% pasien kanker ginjal akan muncul gejala kencing darah, muncul kencing darah yang dapat dilihat dengan mata telanjang, juga dapat muncul kencing darah di bawah pantauan mikroskop. Pada saat kencing darah dalam jumlah banyak membentuk gumpalan darah muncul gejala sakit kolik ginjal, nyeri buang air kecil, disuria, bahkan retensi urin.

b)      Benjolan : Ginjal berada di retroperitoneal, letaknya dalam, pada saat perut diraba tidak dapat terasa, hanya pada saat ukuran tumor agak besar atau pada saat tumor terletak pada bagian bawah ginjal baru dapat teraba ada benjolan, sekitar 10%~40% pasien dapat teraba ada benjolan diperut, terkadang gejala ini merupakan gejala satu-satunya.

c)      Rasa sakit : Sakit pinggang dikarenakan tumor setelah bertumbuh besar, keelastisan lapisan luar ginjal meningkat atau tumor invasi ke jaringan sekitar sehingga menimbulkan rasa sakit tumpul monoton (terus-menerus). Tingkat kemunculan gejala nyeri adalah 20%~40%. Bila berkaitan dengan gejala yang timbul harus segera berobat, agar tidak menunda penyakit.

  1. Gejala seluruh tubuh: 10%~40% pasien mengalami paraneoplastik syndrome, dengan gejala tekanan darah tinggi, anemia, berat badan turun, cachexia, meradang, polycythemia, disfungsi liver dan lainnya
  2. Gejala metastase: Karena terjadi metastase pasien mungkin akan mengalami sakit tulang, patah tulang, batuk, batuk berdarah dan gejala lainnya. Kurang lebih 10% dari pasien berobat karena adanya metastase. Gejala klinis kanker ginjal bervariasi,bila ditemukan adanya gejala seperti yang disebutkan tadi,segera konsultasi dengan dokter spesialis untuk melakukan pemeriksaan dengan yang berkaitan seperlunya.

Klasifikasi Tumor Ginjal

  1. 1.      Tumor Jinak

Tumor mulai pada sel-sel, blok-blok bangunan yang membentuk jaringan-jaringan. Jaringan-jaringan membentuk organ-organ tubuh. Secara normal, sel-sel tumbuh dan membelah untuk membentuk sel-sel baru ketika tubuh memerlukan mereka. Ketika sel-sel tumbuh menua, mereka mati, dan sel-sel baru mengambil tempat mereka. Adakalanya proses yang teratur ini berjalan salah. Sel-sel baru terbentuk ketika tubuh tidak memerlukan mereka, dan sel-sel tua tidak mati ketika mereka seharusnya mati. Sel-sel ekstra ini dapat membentuk suatu massa dari jaringan yang disebut suatu pertumbuhan atau tumor.

  1. a.      Hamartoma Ginjal

Hamartoma atau angiomiolipoma ginjal adalah tumor ginjal yang terdiri atas komponen lemak, pembuluh darah dan otot polos. Tumor jinak ini biasanya bulat atau lonjong dan menyebabkan terangkatnya simpai ginjal. Lima puluh persen dari hamartoma ginjal adalah pasien Tuberous sklerosis atau penyakit Bournville yaitu suatu kelainan bawaan yang ditandai dengan retardasi mental, epilepsi, adenoma seseum dan terdapat hamartoma di retina, hepar, tulang, pankreas dan ginjal. Tumor ini lebih banyak menyerang wanita daripada pria dengan perbandingan 4 : 1 .

  1. b.      Fibroma Renalis

Tumor jinak ginjal yang paling sering ditemukan ialah fibroma renalis atau tumor sel interstisial reno-medulari. Tumor ini biasanya ditemukan secara tidak sengaja sewaktu melakukan autopsi, tanpa adanya tanda ataupun gejala klinis yang signifikan. Fibroma renalis berupa benjolan massa yang kenyal keras, dengan diameter kurang dari 10 mm yang terletak dalam medula atau papilla. Tumor tersusun atas sel spindel dengan kecenderungan mengelilingi tubulus di dekatnya.

  1. c.       Adenoma Korteks Benigna

Adenoma koreteks benigna merupakan tumor berbentuk nodulus berwarna kuning kelabu dengan diameter biasanya kurang dari 20 mm, yang terletak dalam korteks ginjal. Tumor ini jarang ditemukan, pada autopsi didapat sekitar 20% dari seluruh autopsi yang dilakukan. Secara histologis tidak jelas perbedaannya dengan karsinoma tubulus renalis ; keduanya tersusun atas sel besar jernih dengan inti kecil. Perbedaannya ditentukan hanya berdasarkan ukurannya ; tumor yang berdiameter kurang dari 30 mm ditentukan sebagai tumor jinak. Perbedaan ini sepenuhnya tidak dapat dipegang sebab karsinoma stadium awal juga mempunyai diameter kurang dari 30 mm. Proses ganas dapat terjadi pada adenoma korteks.

  1. d.      Onkositoma

Onkositoma merupakan subtipe dari adenoma yang sitoplasma granulernya (tanda terhadap adanya mitokondria yang cukup besar dan mengalami distorsi) banyak ditemukan. Onkositoma kadang-kadang dapat begitu besar sehingga mudah dikacaukan dengan karsinoma sel renalis.

  1. e.       Tumor Jinak Lainnya

Tumor jinak dapat timbul dari jenis sel apapun dari dalam ginjal. Beberapa menyebabkan masalah klinis, seperti hemangioma yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan, sehingga memberikan rasa nyeri atau merupakan predisposisi kehilangan darah yang banyak sewaktu terjadi trauma.Tumor yang jarang ditemukan ialah tumor sel jukstaglomerulor yang memproduksi renin yang merupakan penyebab terjadinya hipertensi. Jenis tumor lain yang pernah ditemui adalah lipoma dan leiomioma.

  1. 2.      Tumor Ganas (Kanker)

Tumor ginjal yang ganas biasanya berupa tumor padat yang berasal dari urotelium, yaitu karsinoma sel transisional atau berasal dari sel epitel ginjal atau adenokarsinoma, yaitu tumor Grawitz atau dari sel nefroblas, yaitu tumor Wilms.

  1. Adenokarsinoma Ginjal

Adenokarsinoma ginjal adalah tumor ganas parenkim ginjal yang berasal dari tubulus proksimalis ginjal. Tumor ini paling sering ditemukan pada umur lebih dari 50 tahun. Angka kejadian pada pria lebih banyak daripada wanita dengan perbandingan 2 : 1. Meskipun tumor ini biasanya banyak diderita pada usia lanjut (setelah usia 40 tahun), tetapi dapat pula menyerang usia yang lebih muda. Tumor ini dikenal dengan nama lain sebagai : tumor Grawitz, Hipernefroma, Karsinoma sel Ginjal atau Internist tumor.

  1. Nefroblastoma atau Tumor Wilms

Nefroblastoma adalah tumor ginjal yang banyak menyerang anak berusia kurang dari 10 tahun dan paling sering dijumpai pada umur 3,5 tahun. Paling banyak menyerang anak-anak. Insiden puncaknya antara umur 1- 4 tahun. Anak perempuan dan laki-laki sama banyaknya. Tumor Wilm sering diikuti dengan kelainan bawaan berupa: anridia, hemihipertrofi dan anomali organ urogenitalia.

  1. Tumor Pelvis Renalis

Sesuai dengan jenis histopatologinya tumor ini dibedakan dalam dua jenis yaitu (1) karsinoma sel transitional dan (2) karsinoma sel skuamosa. Seperti halnya mukosa yang terdapat pada kaliks, buli-buli dan uretra proksimal, pielum juga dilapisi oleh sel-sel transitional dan mempunyai kemungkinan untuk menjadi karsinoma transitional. Karsinoma sel skuamosa biasanya merupakan metaplasia sel-sel pelvis renalis karena adanya batu yang menahun pada pelvis renalis.
Ditemukan hubungan antara tumor ini dengan penyalahgunaan pemakaian obat analgesik, dan terkena zat warna anilin yang digunakan pada pewarnaan, karet, plastik dan industri gas.Yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah kencing darah (80%), kadang-kadang disertai dengan nyeri pinggang dan teraba massa pada pinggang. Keadaan tersebut disebabkan oleh massa tumor atau akibat obstruksi oleh tumor yang menimbulkan hidronefrosis.

VESICA URINARIA  (KANDUNG KEMIH)

Bawaan Tumor kanker Infeksi Alergi imun
Vesica urinaria ü  Agenesisü  Ekstrophi

ü  Divertikulum

ü  Hernia

ü  Kistokel

ü  Vesika prolap masuk ke uretra

ü  Inkontinensia Urinae

ü  Fistula urinaria

 

ü  Tumor kandung kemihü  Kistitis proliferativePapiloma

ü  Karsinoma

 

ü  Cystitisü  Kencing batu

 

ü  Bulosa

Vesica urinaria merupakan organ musculer berongga yang ukuran dan posisinya tergantung pada jumlah urine didalamnya. Pada keadaan kosong vesica urinaria mempunyai struktur berdinding tebal, berbentuk seperti buah pir yang terletak diatas pelvis. Vesica urinaria dibagi menjadi bagian leher atau cervic vesicae yang dihubungkan dengan urethra, bagian cranial yang tumpul atau fundus vesicae dan badan vesika urinaria atau corpus vesicae Urin pada vesica urinaria diperoleh dari ginjal melewati ureter yang kemudian disimpan, setelah disimpan urin dikeluarkan melewati urethra.  Kelainan pada vesica Urinaria Antara Lain :

ü  Agenesis : tidak terbentuk vesica urinaria. Biasanya anak yang menderita kelainan ini akan meneteska air kencingnya.

ü  Ekstrofi : kandung kemih tidak terbentuk secara sempurna sehingga terbuka ke permukaan perut

ü  Batu kandung kemih adalah batu yang tidak normal di dalam saluran kemih yang mengandung komponen kristal dan matriks organik tepatnya pada vesika urinari atau kandung kemih. Batu kandung kemih sebagian besar mengandung batu kalsium oksalat atau fosfat. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan batu kandung kemih adalah :

  1. Faktor Endogen

Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hyperkalsiuria dan hiperoksalouria.

  1. Faktor Eksogen.

Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum.

  1. Faktor lainnya.

Infeksi, stasis dan obstruksi urine, keturunan, air minum, pekerjaan, makanan atau penduduk yang vegetarian lebih sering menderita batu saluran kencing atau buli-buli ( Syaifuddin, 1996 ). Batu kandung kemih dapat disebabkan oleh kalsium oksalat atau agak jarang sebagai kalsium fosfat. Batu vesika urinaria kemungkinan akan terbentuk apabila dijumpai satu atau beberapa faktor pembentuk kristal kalsium dan menimbulkan agregasi pembentukan batu proses pembentukan batu kemungkinan akibat kecenderungan ekskresi agregat kristal yang lebih besar dan kemungkinan sebagai kristal kalsium oksalat dalam urine. Dan beberapa medikasi yang diketahui menyebabkan batu ureter pada banyak klien mencakup penggunaan obat-obatan yang terlalu lama seperti antasid, diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin dosis tinggi. Adapun pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada klien batu kandung kemih adalah :

  • Urinalisa
    Warna kuning, coklat atau gelap.
  • Foto KUB

Menunjukkan ukuran ginjal ureter dan ureter, menunjukan adanya batu.

  • Endoskopi ginjal

Menentukan pelvis ginjal, mengeluarkan batu yang kecil.

  • EKG
    Menunjukan ketidak seimbangan cairan, asam basa dan elektrolit.
  • Foto Rontgen

Menunjukan adanya di dalam kandung kemih yang abnormal.

  • IVP ( intra venous pylografi ) :

Menunjukan perlambatan pengosongan kandung kemih,membedakan derajat obstruksi kandung kemih divertikuli kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung kemih.

ü  Tumor kandung kencing merupakan keganasan saluran kencing terbanyak kedua setelah tumor prostat. Tumor ini menyerang pria 2 kali lebih banyak dibandingkan wanita. Di daerah industri kejadian tumor ini meningkat tajam. Perokok mempunyai resiko 2 – 6 kali lebih tinggi menderita tumor kandung kencing dibandingkan yang bukan perokok. Kebiasaan mengkonsumsi kopi dan pemanis buatan diduga meningkatkan resiko timbulnya tumor kandung kencing. Infeksi saluran kemih berulang beresiko besar menjadi tumor kandung kencing terutama akibat zat karsinogen (pencetus tumor) yang dihasilkan bakteri E. coli dan Proteus spp.

Penyebab Kanker Kandung Kemih (Bladder Cancer)

  • Karsinogen lingkungan, misal 2-naftilamin, benzidine, tembakau, dan nitrat
  • Karsinoma sel skuama kandung kemih adalah penyebab paling umum di area geografis yang merupakan endemi sistosomiasis.

Tanda dan Gejala Kanker Kandung Kemih (Bladder Cancer)

  • Di stadium awal, 25% pasien kanker kandung kemih tidak mengalami gejala
  • Tanda pertama adalah hematuria yang banyak, tidak menyakitkan dan intermitten (biasanya disertai gumpalan dalam urin).
  • Jika ada lesi invasif, biasanya penderita mengalami nyeri suprapubis setelah buang air.

Terapi untuk tumor kandung kencing yang pertama kali dilakukan adalah tindakan reseksi (pengerokan) kandung kencing menggunakan alat yang dimasukkan melalui saluran kencing. Setelah itu tergantung hasil evaluasi, terapi selanjutnya dapat berupa instilasi (memasukkan zat sitostatika melalui kateter) ke dalam kandung kencing, radiasi, kemoterapi dan sistektomi (pengangkatan kandung kencing).

ü  Cystitis

Cystitis adalah gangguan kelainan pada ginjal manusia yang berupa radang pada membran mukosa yang menjadi pelapis kandung kemih.

ü  Divertikulum

Terjadi jika dinding vesika menonjol keluar melalui lokus minoris resisten. Bisa sebab kongenital perkembangan otot yang tidak sempurna

ü  Hernia, vesika sebagian masuk ke kanalis inguinalis atau foramen femorale

ü  Kistokel, vesika menonjol ke vagina dan sering timbul radang

ü  Bulosa, dikarenakan efek radiasi berupa bula yang berisi air

ü  Kistitis proliferatif. Pada mulanya terjadi proliferasi sel epitel vesica urinaria yang tumbuh ke dalam, masuk ke subepithel sehingga mirip gambaran infitrasi tumor. Kemudian oleh satu, dua dan atau tiga sebab bagian yang berada di tengah mengalami nekrosis dan degenerasi sehingga terbentuk massa epithel soliter di daerah subepithelial. Massa ini disebut kistitis kistika jika membentuk kista, kistika glandularis jika berisi cairan dan dilapisi epitel pipih, kistitis tubuler jika bersekresi dan disebut kistitis papilaris jika tumbuh papilar disertai stromanya.

ü  Karsinoma Vesika Urinaria

Karsinoma dapat ditemukan di vesika dengan ciri berbenjol-benjol, mendatar dan padat. Karsinoma vesika urinaria dapat pula ditemukan sebagai metastasis karsinoma dari uterus atau vegian yang menembus ke vesika.

ü  Inkontinensia Urinae

Ketidakmampuan menahan air kencing atau inkontinensia urinae mempunyai berbagai sebab yang dapat dikembalikan pada sfingter vesika urinaria yang tidak berfungsi baik atau pada fistula urin.

ü  Fistula Urinae

Bila kebersihan kurang atau tidak ada maka mudah timbul vulvitis dan vaginatis. Pada vulva dan sekitar anus timbul ekskoriasi, ulserasi dan kondiloma. Pada fistula lama kulit disekitarnya menjadi tebal dan kaku. Air kencing terus-menerus mengalir menimbulkan bau pesing dan genitalia eksterna selalu basah.

URETER

Ureter Kembar Atau Ureter Bifida

Ureter kembar ialah terdapatnya dua ureter pada satu ginjal, sedangkan ureter yang bercabang pada suatu tempat sehingga berbentuk huruf Y. Kelainan ini berasal clan dua buah ureter, biasanya disertai piala ginjal

kembar atau dapat pula terjadi sebuah piala yang besar dengan piala ginjal yang bercabang.

Pembuluh Darah Ginjal Aferens

Kelainan ini dapat terjadi pada vena maupun arteri yang berasal dari arteri renalis maupun aorta. Pembuluh darah ginjal aferens dapat mengakibatkan ureter terjepit dan menimbulkan gejala-gejala sumbatan.

Kelainan Lumen Ureter

Kelainan ini terjadi akibat penyempitan yang dapat menimbulkan gejala obstruksi (sumbatan) pada ureter dapat diperkirakan dari melilit atau tertekuk di ureter.

Kelainan Muara Ureter

Kelainan muara ureter yaitu berpindahnya muara ureter dan melekat pada organ yang lain. Pada laki-laki, muara ini melekat pada uretra pays prostalika, duktus ejakulatorius, vesikula seminalis, dapat pula pada vas deferens. Sedangkan pada perempuan, muara ini dapat melekat pada uterus, uretra,

vagina.

INFEKSI

Pielonefritis

Pielonefritis adalah infeksi bakteri pada jaringan ginjal yang dimulai dari saluran kemih bagian bawah terns naik ke ginjal. Infeksi ini dapat mengenai baik parenkirn maupun pelvis ginjal.

Gangguan ini dapat disebabkan oleh bakteri E.coli, karena resisten terhadap obat antibiotik, atau obstruksi ureter yang mengakibatkan hidro­nefrosis.( adalah pembengkakan ginjal yang terjadi sebagai akibat akumulasi urin di saluran kemih bagian atas. Hal ini biasanya disebabkan adanya penyumbatan di suatu tempat di sepanjang saluran kemih). Hidronefrosis tingkat 3-4 berarti ada sumbatan total di ureter bagian atas. Mungkin karena batu lunak

Gangguan akut terjadi bila infeksi bakteri naik dari saluran kemih bagian bawah ke arah ginjal, hal ini akan mempengaruhi fungsi ginjal. Sedangkan gangguan kronik terjadi bila infeksi dapat terjadi karena adanya bakteri tetapi dapat juga karena faktor lain, seperti obstruksi saluran kemih. Pielonefritis kronik dapat merusak jaringan ginjal secara parmanen dan dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronik.

Pielonefritis akut Bering juga ditemukan pada perempuan hamil biasanya diawali dengan hidroureter dan hidronefritis akibat obstruksi ureter karena uterus yang membesar. Tanda dan gejala pielonefritis akut adalah rasa nyeri dan nyeri tekan pada daerah ginjal, pangs tinggi dan terjadi respons sistemik yang umum, sering miksi dan terasa nyeri, dan dalam urine ditemukan adanya leukosit dan bakteri. Penatalaksanaan gangguan ini dengan memberi pasien banyak minum dan tempi antibiotika.

Pielonefritis kronik terjadi akibat infeksi yang berulang-ulang sehingga kedua ginjal perlahan-lahan menjadi rusak. Tanda dan gejala gangguan ini ditunjukkan dengan adanya serangan pielonefritis akut yang berulang-ulang darn kesehatan pasien semakin menurun pada akhirnya pasien mengalami gagal ginjal.

Pemeriksaan diagnostik untuk infeksi saluran kemih adalah dengan IVP, sistoskopi, kultur urine, atau biopsi ginjal.

 

Prognosis baik bila dilakukan pengobatan tepat, tetapi bila infeksi berlangsung terns, dapat terjadi atrofi pielonefritis. Komplikasi penyakit ini meliputi hipertensi, pembentukan batu dan kegagalan ginjal. Sehingga perlu dilakukan pencegahan, dengan deteksi dini dan perawatan serta pengobatan yang adekuat terhadap infeksi saluran kemih bagian bawah (ureteritis, sistitis. uretritis).

Ureteritis

Ureteritis adalah peradangan pada ureter. Gangguan ini terjadi karena adanya infeksi baik pada ginjal maupun kandung kemih.

Patofisiologi. Infeksi di ginjal (pielonefritis) menjadi ureteritis selanjutnya menjadi sistitis (akibat infeksi desendens) atau sebaliknya. Aliran urine dari ginjal ke buli-buli dapat terganggu karena timbulnya fibrosis pada dinding ureter, menyebabkan striktur dan hidronefrosis, selanjutnya ginjal menjadi rusak, juga mengganggu peristaltik ureter

Batu ureter

Tiba-tiba timbul nyeri kolik mulai dari pinggang hingga testis pada laki-laki atau ovarium pada perempuan. Pada posisi apapun pasien sangat kesakitan kadang-kadang disertai perut kembung, mual, muntah, gross hematuri. Diag­nosis gangguan ini ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium dan BNO/ IVP, pada pemeriksaan laboratorium terlihat urine banyak mengandung eritrosit.

Tindakan penanggulangan pada gangguan ini kalau perlu dilakukan tindakan operasi. Ada kalanya tidak perlu dilakukan operasi, hal ini ber­gantung pada besar-kecilnya batu. Untuk batu yang kecil dengan bentuk memanjang kurang dari 1 cm, diperkirakan dapat turun ke kandung kemih, diberikan terapi konservatif yaitu pemberian diuretika, antispasmodik, antibiotik, pasien dianjurkan untuk banyak minum. Dan observasi dilakukan selama kurang lebih 3-6 bulan.

• Penyakit ginjal polikista : ginjal mengandung banyak kista.
Kelainan yang mungkin ditemukan pada ureter (saluran kemih yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih):

BAWAAN

• Ekstra ureter
• Misplaced ureter
• Ureter yang melebar atau menyempit.

Air kemih bisa mengalir balik dari kandung kemih ke dalam ureter yang abnormal, sehingga mudah terjadi infeksi ginjal (pielonefritis). Ureter yang menyempit bisa menghalangi aliran air kemih dari ginjal ke kandung kemih dan bisa menyebabkan ginjal membesar (hidronefrosis) serta menyebabkan kerusakan ginjal.

Kanker Ureter

DEFINISI
Kanker dapat terjadi pada sel-sel yang melapisi pelvis renalis dan ureter. Kanker pada sel-sel yang melapisi pelvis renalis disebut karsinoma sel transisional. Pelvis renalis adalah bagian ginjal yang berfungsi sebagai corong yang mengalirkan air kemih ke ureter. Ureter adalah tabung/saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih.

PENYEBAB
Penyebab mengganasnya sel-sel ginjal tidak diketahui.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan urografi intravena atau urografi retrograd. CT scan dapat membantu membedakan tumor dengan batu ginjal atau bekuan darah dan menunjukkan pertumbuhan kanker. Pemeriksaan mikroskopik terhadap contoh air kemih bisa menunjukkan adanya sel-sel kanker. Ureteroskopi atau nefroskopi digunakan untuk mengamati atau kadang untuk mengobati tumor yang kecil.

 

Membuat reagen kimia di laboratorium

 

NO. NAMA LARUTAN CARA PEMBUATAN KEGUNAAN
1. Air Barit Masukkan 70 gram
dalam 1 liter air yang telah didihkan, kocok sampai larutan menjadi jenuh, Gunakan larutan yang jernih.
Reagensia untuk CO2
2. Air Brom Masukkan 25 ml Brom dalam 500 ml air. Kocok hati-hati sampai semua Brom larut. Awas! Brom air bila kena kulit dapat menyebabkan luka baker. Uap Brom membahayakan keehatan. Kerjalah di udara terbuka , dan pakailah sarung tangan. Sebagai Oksidator
3. Air Kanji Campurkan 2 gram Amilum dengan 0,01 gram dan tambahkan sedikit air dingin. Aduk sampai menjadi pasta . Encerkan dengan air mendidih sampai 1 liter. Didihkan beberapa menit. Dinginkan dan simpan dalam botol. Reagensia untuk Yodium
4. Air Kapur/Kapur tohor Masukkan 1 sendok dalam 1 liter air. Aduklah campuran itu. Endapkan dan saring. Gunakanlah larutan yang jernih. Reagensia Untuk CO2
5. Air Klor Alirkan gas klor kedalam 1 liter air sehingga jenuh.Ingat ! gas adalah racun keras. Kerjakanlah di udara terbuka. Sebagai Oksidator
6. Air Laut Larutkan dalam 1 liter air:20,0 gram NaCl; 1,8 gram MgSO4 . 7 H2O ; 2,5 gram MgCl2 ; 1,0 gram K2SO4 Sebagai pengganti Air Laut
7. Albumin Campurkan 5 ml putih telur dengan 5 ml air. Tuangkan campuran ini ke dalam 500 ml air hangat ( 60 oC ) sambil diaduk. Panaskan dengan perlahan ( tidak di atas suhu 80 oC ) sampai larutan menjadi bening. Dinginkan dan saring dengan wol kaca. Untuk Percobaan Protein
8. Amonium Sulfida Alirkan gas ke dalam 500 ml larutan Amonia 5 M smpai jenuh. ( Ingat Amonia bersifat racun, kerjalah di tempat udara terbuka/dilemari asam ). Tuangkan 500 ml Amonia 5 M ke dalam larutan ini. Mengendapkan Ion-Ion Logam
9. Anilin Biru Larutkan 0,1 gram Fuchsin basa ke dalam 160 ml air dan 1 ml etanol Zat Pewarna Selulosa ( Untuk Biologi )

 

 

10. Anilin Merah Larutkan 1,0 gram Anilin Sufat ke dalam 89 ml Alkohol 70 % . Tambahkan 10 ml Asam Sulfat 0,005 M. Simpan larutan ini dalam botol yang berwarna coklat. Zat Pewarna Bakteri dan Inti Sel ( Untuk Biologi )
11. Asam Aki ( Air aki ) Tuangkan dengan perlahan 220 ml pekat murni ke dalam 750 ml air suling sambil aduk. Encerkan sampai 1 liter. Periksa Berat Jenisnya dengan Hidrometer harus menunjukkan angka 1,25. Bila BJ-nya kurang dari 1,25 tambahkan asam sulfat pekat dan bila BJ-nya lebih dari 1,25 tambahkan air suling. Asam Untuk Aki
12. Asetokarmin Masukkan 1,0 gram Karmin ke dalam 45 ml Asam Asetat glasial. Tambahkan 55 ml air. Panaskan selama 5 menit dengan refluks. Setelah didinginkan kemudian saring. Zat Pewrna Untuk Inti Sel dan Kro-mosom ( Untuk Biologi )
13. Aseto Orsin Larutkan 2,2 gram Orsin ke dalam 100 ml Asam Asetat glasial. Pada pemakaian, encerkan 10 ml larutan ini dengan 12 ml air. Pewrna Kromo-som ( Untuk Biologi )
14. Aqua Regia Campurkan satu bagian pekat dengan tiga bagian HCl pekat. Untuk Melarutkan Logam-Logam mulia
15. Barfoed Campurkan 13,3 gram Tembaga (II) Asetat dan 2 ml AsamAsetat Glasial. Tambahkan air hingga larutan menjadi 200 ml . Untuk Uji Gluko-sa
16. Benedict Larutkan 173 gram Natrium Sitrat dan 100 gram dalam 800 ml air suling. Larutkan 17,3 gram .5 dalam 150 ml air. Tuangkan dengan perlahan larutan ke dalam larutan pertama sambil diaduk. Encerkan dengan air sampai 1 liter. Reagensia Untuk Gula Yang Mempunyai Sifat Mereduksi
17. Biuret Larutkan 0,75 gram CuSO4 dalam 1 liter larutan NaOH 2 M. Reagensia Untuk urea Dan Protein
18. Brom fenol Biru Timbang 0,1 gram Brom Fenol Biru, larutkan dalam 1,5 ml larutan NaOH 0,1 M. Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 3,0 – 4,6Perubahan Warna : Kuning – Biru
19. Brom Kresol Hijau  Timbang 0,1 gram Brom Kresol Hijau, larutkan dalam 1,5 ml larutan NaOH 0,1 M. Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 3,8 – 5,4Perubahan Warna : Kuning – Hijau
20. Brom Kresol Ungu  Timbang 0,1 gram Brom Kresol Ungu, larutkan dalam 1,9 ml larutan NaOH 0,1 M. Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 5,2 – 6,8Perubahan Warna : Kuning – Hijau
21. Brom Timol Biru  Timbang 0,1 gram Brom Timol Biru, larutkan dalam 1,5 ml larutan NaOH 0,1 M. Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 6,0 – 7,6Perubahan Warna : Kuning – Biru
22. Cermin Perak (A) : Larutkan 12,5 gram dalam 100 ml air. Larutkan pula 32,5 gram K-Na- Tartrat dalam 100 ml air. Campur kedua larutan ini dan panaskan samapai 550 C selama 5 menit. Dinginkan dan pisahkan larutan dari endapannya dan encerkan sampai 200 ml. (B) : Larutkan 1,5 gram dalam 12 ml air. Teteskan ke dalam larutan ini Amonia encer, sehingga endapan yang terbentuk tepat larut dlagi. Encerkan denganair sampai 200 ml .  Larutan (A) dicampur dengan Larutan (B). Permukaan kaca dibersihkan untuk menghilangkan kotoran dan lemak yang mungkin melekat pada kaca. Kaca dimasukkan dalam larutan secara terbalik, tepat di bawah permukaan larutan. Untuk mempercepat terjadinya cermin, panaskan larutan dengan perlahan. Larutan sisa dapat disimpan dalam botol yang bersih. Pada bagian dalam botol akan terjadi lapisan cermin. Untuk Membuat Kaca Perak
23. Difenil Amina  Larutkan 0,5 gram Difenil amina dalam 100 ml Asam Sulfat pekat. Tuangkan cairan ini ke dalam 20 ml air. *Reagensia Untuk Zat Pengoksidasi.*Indikator Redoks : Warna Bila Dioksidasi: Ungu,Warna Bila direduksi: Tidak Berwarna
24. Difenil Karbazon  Larutkan 1,0 gram Difenil Karbazon dalam 100 ml Etanol Reagensia Untuk Tes Merkuri
25. Dimetil Glioksin  Larutkan 0,12 gram Dimetil Glioksin dalam 100 ml Etanol Reagensia Untuk Tes Nikel
26. 2,2 – Dipyridil  Larutkan 1,172 gram 2,2 – Dipyridil dalam 100 ml air. Tambahkan 0,695 kristal. Indikator Redoks: Warna Dioksidasai : Biru,Warna Direduksi: Merah
27. Eosin Larutkan 1,0 gram eosin basa dalam 100 ml air. Tambahkan sedikit Kloroform. Zat Pewarna Merah Untuk Jaringan Hidup ( Untuk Biologi)

 

28. Esbach Larutkan 2 gram Asam Nitrat dan 1,0 gram Asam Pikrat dalam 100 ml air. Reagensia Untuk Albumin
29. Fehling  Fehling A : Larutkan 69,28 gram CuSO4 dalam 1 liter air. Fehling B : Larutkan 352 gram K-Na- Tartrat dan 154 gram NaOH dalam 1 liter air. Pada pemakaian : Campur 5 ml Fehling A dan 5 ml Fehling B. Reagensia untuk Gula Yang Mempunyai Sifat Mereduksi.
30. 1, 10 – Fenantroline Hidrat Larutkan 1,485 gram 1, 10 – Fenantro-line Hidrat dalam 100 ml air. Indikator Redoks: Warna Dioksidasai : Biru,Warna Direduksi: Merah
31. Fenolftalein Larutkan 1 gram fenolftalein dalam 250 ml Alkohol ( Etanol). Jadikan larutan menjadi 500 ml dengan menambahkan air. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 8,4 – 10,0Perubahan Warna : Tdk berwarna-Merah – Ungu
32. Fenol Merah Timbang 0,1 gram Fenol Merah, larutkan dalam 2,8 ml larutan NaOH 0,1 M. Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 6,4 – 8,2Perubahan Warna : Kuning – Merah
33. Floroglusinol Larutkan 3 gram Floroglusinol dalam 100 ml Alkohol. Reagensia Untuk Lignin ( Untuk Biologi )
34. Hager Buatlah larutan jenuh Asam Pikrat ( 1,4 gram Asam Pikrat dalam 100 ml air ). Reagensia Untuk tes Alkaloid
35. Hematoksilin ( Ehrlich ) Larutkan 2 gram Hematoksilin dalam 100 ml Alkohol. Tambahkan 100 ml air , 100 ml Gliserol, 10 ml Asam Asetat Glasial, dan Kalium Aluminium Sulfat berlebihan. Biarkan dalam botol terbuka di sinar matahari sampai berwarna merah tua. Reagensia Untuk Membedakan Bagian-Bagian dari Sel Dan Jaringan (Untuk Biologi)
36. Indikator Universal Yamada Campurkan :- 0, 25 gram Bromtimol Biru – 0,025 gram Timol Biru- 0,0625 gram Metil Merah- 0,5000 gram Fenolftalein. Larutkan campuran di atas dengan 500 ml Etanol. Encerkan dengan air sehingga volumenya menjadi 1 liter. Indikator Asam-Basa. Trayek PH : 4 – 10. Perubahan warna:PH 4 MerahPH 5 JinggaPH 6 KuningPH 7 HijauPH 8 BiruPH 9 Biru TuaPH 10 Ungu
37. Kalium Pirogallat Larutkan 50 gram KOH dalam 100 ml air. Masukkan 5 gram Pirogallol ke dalam larutan ini.

 

 

 

 

Adsorben Oksigen
38. Koloid Masukkan 1,5 gram dalam 250 ml air. Panaskan larutan sampai mendidih. Saringlah setelah didinginkan. Alirkan gas kedalam larutan ini sampai larutan berwarna kuning. Mengenal Sifat Koloid
39. Koloid Panaskan 200 ml air samapai mendidih. Tambahkan beberapa tetes larutan FeCl3 10 %. Mengenal Sifat Koloid
40. Lugol ( Yod ) Biasanya Lugol dibuat dalam larutan Kalium Iodida (KI) , karena Iod sendiri sukar larut dalam air. Larutkan 12,7 gram I2 dan 20 gram KI dalam 100 ml air. Larutan yang terjadi dibuat 1 liter dengan menambahkan air. Reagensia Untuk Uji Amilum
41. Magnesia Mixture Larutkan 50 gram . 6 dan 70 gram NH4Cl dalam 400 ml air. Tambahkan 100 ml Amonia 15 M. Encerkan dengan air sampai 1 liter. Reagensia Untuk Tes Fosfat dan Arsenat
42. Metilen biru Larutkan 1 gram Metilen Biru dalam 100 ml larutan 0,5 % NaCl. Pewarna Inti sel (Histologi)
43. Metil jingga Larutkan 1 gram Metil Jinga dalam 500 ml Alkohol 95 %. Jadikan larutan menjadi 1 liter dengan menambahkan air. Indikator Asam-Basa. Trayek PH: 2,8 – 4,6.Perubahan warna:Merah – Kuning.
45. Metil Merah Larutkan 1 gram Metil Merah dalam 500 ml Alkohol 95 %. Jadikan larutan menjadi 1 liter dengan menambahkan air. Indikator Asam-Basa. Trayek PH: 4,4 – 6,0.Perubahan warna:Merah – Kuning.
46. Millon Larutkan 1 bagian Hg dalam 1 bagian HNO3 berasap dan dinginkan. Encerkan dengan air sampai 2X volumenya. Setelah beberapa jam, tuangkan larutan yang bening. Reagensia Untuk Albumin dan Fenol
47. Molish Larutkan 5 gram Alfanaftol dalam 100 ml Alkohol atau Kloroform Tes Untuk wol dan Karbohidrat
48. Nessler Larutkan 50 gram KI dalam 50 ml air dingin. Buat larutan jenuh Raksa (II) klorida ( ± 22 gram HgCl2 dalam 350 ml air ). Teteskan larutan jenuh Raksa (II) klorida ini ke dalam larutan KI, sehingga terjadi endapan. Tambahkan 500 ml larutan NaOH 5 M dan encerkan dengan iar sampai volume 1 liter. Saringlah, dan ambil larutan yang jernih. Simpan dalam botol coklat. Reagensia Untuk Tes Amoniak
49. O – Diklorofenol Indofenol Larutkan 0,1 gram O – Diklorofenol Indofenol dalam 100 ml air. Indikator Redoks: Warna Dioksidasai : Biru,Warna Direduksi: Merah
50. Ringer Larutkan dalam 1 lite air ;- 8,1 gram NaCl- 0,74 gram KCl- 0,22 gram anhidrous- 0,20 gram . 6 – 0,33 gram – 0,78 gram Ø Larutkan dalam 1 liter air ; – 6,5 gram NaCl – 0,12 gram . 6 – 0,14 gram KCl- 0,20 gram Untuk Serangga Untuk Katale
51. Salin Isotonik Larutkan 6,4 gram NaCl dalam 1 liter air. Untuk Jaringan Mamalia ( Untuk Biologi )
52. Sel daniel (A) : Tuangkan dengan perlahan 80 ml pekat dalam 750 ml air.Ø Encerkan sampai 1 liter. (B) : Buat larutan jenuh dengan melarutkan ± 400 gram .5 dalam 1 liter air dan tambahkan 2 ml pekat. Larutan Untuk Sel Daniel
53. Sel Laclanche Larutkan 350 gram Amonium Klorida dalam air sampai 1 liter. Larutan Untuk Sel Laclache
54. Seliwanoff Larutkan 0,5 gram Resorsinol ( Benzena 1,3- diol ) dengan 1 liter Asam klorida 3 M.  
55. Schweitzer Larutkan 5 gram .5 dalam 100 ml air. Didihkan larutan ini dan tambahkan larutan NaOH, sehingga tidak terjadi endapan lagi. Saring dan cuci endapan sampai bersih sekali. Larutkan endapan ini dalam sedikit mungkin larutan Amonia 4 M. Pelarut Selulosa
56. Schiff Larutkan 0,5 gram Fuchsin dalam 500 ml air. Lunturkan warna larutan dengan mengalirkan gas Belerang dioksida ke dalamnya. Atau : Larutkan 0,5 gram fuchsin dalam 500 ml air kemudian tambahkan 9 gram Natrium Hidrogen Sulfit diikuti dengan 20 ml Asam Nitrat 2 M. Untuk Uji Aldehid
57. Timol Biru Timbang 0,1 gram Timol Biru, larutkan dalam 2,2 ml larutan NaOH 0,1 M.Ø Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 3,8 – 5,4Perubahan Warna : Merah – Kuning
58. Timolftalein Timbang 0,04 gram Timolftalein, larutkan dalam 60 ml larutan Alkohol dan tambahkan 40 ml air. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 9,3 – 10,4Perubahan Warna : Kuning – Merah

 

 

 

59. Tollens Campurkan 50 ml larutan AgNO3 10 % dengan 50 ml larutan NaOH 10 %. Teteskan ke dalam campuran ini larutan Amonia pekat, sehingga endapannya tepat larut. Reagensia Untuk Aldehid dan Gula Pereduksi.

Sumber : dari berbagai sumber

 

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SD

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas I,  Semester   1

 

Standar Kompetensi 

Kompetensi Dasar

Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan

 

1.  Mengenal anggota tubuh dan kegunaannya, serta cara perawatannya

 

1.1 Mengenal bagian-bagian tubuh dan kegunaannya serta cara perawatannya

1.2  Mengidentifikasi  kebutuhan tubuh agar tumbuh sehat dan kuat (makanan, air, pakaian, udara, lingkungan sehat)

1.3  Membiasakan hidup sehat

2.  Mengenal cara memelihara lingkungan agar tetap sehat

2.1  Mengenal cara menjaga lingkungan agar tetap sehat

2.2  Membedakan lingkungan sehat dengan lingkungan tidak sehat

2.2  Menceritakan perlunya  merawat tanaman, hewan peliharaan dan lingkungan sekitar

Benda dan Sifatnya

3.   Mengenal berbagai sifat benda dan kegunaannya melalui   pengamatan perubahan bentuk benda

 

3.1  Mengidentifikasi benda yang ada di lingkungan sekitar berdasarkan cirinya melalui pengamatan

3.2  Mengenal benda yang dapat diubah bentuknya

3.3  Mengidentifikasi  kegunaan benda di lingkungan sekitar

 

Continue reading

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMP

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas  VII,  Semester  1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1.  Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan menggunakan peralatan 1.1  Mendeskripsikan besaran pokok dan besaran turunan beserta satuannya

1.2  Mendeskripsikan pengertian suhu dan pengukurannya

1.3  Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari

 

2.  Memahami klasifikasi zat 2.1  Mengelompokkan sifat larutan asam, larutan basa, dan larutan garam melalui alat dan indikator yang tepat

2.2  Melakukan percobaan sederhana dengan bahan-bahan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari

2.3  Menjelaskan nama unsur dan rumus kimia sederhana

2.4  Membandingkan sifat unsur, senyawa, dan campuran

 

3.  Memahami wujud zat dan perubahannya 3.1  Menyelidiki sifat-sifat  zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

3.2  Mendeskripsikan konsep massa jenis dalam kehidupan sehari-hari

3.3  Melakukan percobaan yang berkaitan dengan pemuaian dalam kehidupan sehari-hari

3.4  Mendeskripsikan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

 

4.  Memahami berbagai sifat  dalam perubahan fisika dan kimia 4.1  Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat

4.2  Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia

4.3  Menyimpulkan perubahan fisika dan kimia berdasarkan hasil percobaan sederhana

4.4  Mengidentifikasi terjadinya reaksi kimia melalui percobaan sederhana

 

  Continue reading